PENGELANA
oleh : Prast Respati Zenar
Seorang pemuda bersandar pada tiang halte bus. Pandangannya menerawang menembus sebuah gedung yang telah mematahkan harapannya. Ditanganya, sebuah map biru berisi Ijazah kelulusan. Yang didapatkan dengan susah payah selama tiga tahun lebih dari sebuah sekolah tinggi, dengan predikat cumlaude. Sudah kesekian kali dia menenteng map biru itu masuk satu kantor ke kantor lain. Tanganya hanya mampu terkulai, manakala tadi sempat menyaksikan deretan tempat duduk berjajar orang yang memegang map. Semuanya mempunyai tujuan yang sama. Para pencari kerja.
“Naik…naik…naik… tarik mas…!”
Kondektur bus berteriak dengan tangan melambai-lambai. Beberapa lelaki yang sama dengan pemuda itu bergegas naik kedalam bus untuk melanjutkan petualangannya. Berburu ke gedung-gedung yang belum disinggahi untuk bersaing menyodorkan map di meja personalia. Bus itu berderum, berlalu dengan meninggalkan asap kehitaman. Sementara lelaki berbaju biru dengan krah agak kusam itu mulai bangkit dari tempat duduk. Melangkah menelusuri trotoar. Menekuri lantai batako yang tersusun pada tepi parit, yang selalu sumbat oleh sampah dan menimbulkan bau kurang sedap. Berkelana dari satu kantor ke kantor lain. Semua memberi alasan yang beragam, sudah penuh, belum buka lowongan dan tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Sebuah penolakan yang halus.
Dikontrakan ia harus menghidupi seorang istri dan anak dari himpitan hidup yang semakin menjadi. Semua harga barang pokok melambung, tagihan kost, listrik, dan juga air yang ikut-ikutan merangkak tanpa kompromi. Sekarang ia masih dihadapkan pada sulitnya mencari pekerjaan. Beginilah kalau lulusan sarjana tanpa disertai dengan skill dan ketrampilan yang memadai, hanya mengandalkan angka-angka yang tertera pada nilai transkip, yang selalu membuat tersenyum bangga bila melihatnya. Itu dulu sewaktu masih kuliah yang selalu bangga bisa mempertahankan presentasi didepan dosen. Setelah lulus, semua serba gengsi untuk memulai dari hal kecil. Tapi sekarang, dengan kondisi seperti ini apakah sebuah gengsi masih berlaku? Mental anak negeri memang begitu.
“Sudahlah bang kita jualan saja dipasar kaget, biarpun sedikit untungnya yang penting hidup kita tercukupi.” Istrinya berusaha memberi solusi.
“Apa dik, jualan dipasar kaget? Wah nanti malah abang yang terkaget-kaget lalu jantungan lagi.” kurang setuju dengan usulan istri. Masih menjujung egoismenya.
“Cobalah abang belajar bersyukur. Beruntung kita masih bisa makan sampai sekarang ini. Lihatlah bang, mereka yang diperempatan lampu merah, semuanya berjuang untuk bertahan hidup. Tapi mereka selalu mensyukurinya bang.”
“Karena mereka ditakdirkan memang demikian keadaanya kan?”
“Istiqfar bang, kita mulai dari yang kecil dulu. Lupakan gengsi abang, untuk sementara yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dulu, selebihnya baru dipikirkan nanti.”
“Cukup bagaimana dik, kebutuhan semakin tinggi. Barang-barang semakin melambung. Sedangkan uang pesangon abang tinggal sedikit.” senewen.
“Bang…” suara istrinya lembut.
“Aku masih bisa cari kerja dikantoran, pengalamanku cukup untuk membuktikan bahwa aku masih bisa bersaing dengan mereka yang masih baru.” masih membela diri. Dari dulu memang begitu. Dan seorang istri harus sabar dengan semuanya. Bagaimanapun juga seorang istri harus taat pada suami. Nanti durhaka, katanya akan dilaknat istri-istri yang berani melawan suaminya.
“Abang mau ke kota dik, melamar pekerjaan lagi.”
“Ya sudah kalau itu maunya abang. Aku turut berdo’a semoga abang cepat dapat kerja. Tapi jangan lupa kita tetap harus bersyukur, bagaimanapun keadaaan kita bang.”
Kembali lelaki muda itu melangkah menyusuri trotoar yang berlobang-lobang. Obrolan itu masih mengiang ditelinganya. Kakinya menendang sebuah kaleng minuman ringan di depanya, berputar-putar menimbulkan suara berisik dan berakhir pada sebuah lobang parit. Beteng sepanjang jalan penuh grafity, ada sebuah karikatur tokoh terkemuka dengan perut buncit memakai baju safari. Kedua bibirnya terungging senyum dengan kantong baju dan celananya segepok duit berkeluaran. Kemudian sebuah pasukan dengan moncong senapan mengarah pada manusia-manusia kerdil. Diantaranya dilukiskan lari tunggang langgang. Lelaki itu memandang sejenak, lalu tersenyum. Kemudian beralih pada lukisan sekelompok pemuda yang dipenuhi dengan botol-botol minuman haram dan jarum suntik, ada yang sakau. Terus berderet disebelahnya, sebuah rumah mewah dengan lapangan golf yang ditengahnya terdapat lukisan gubuk dan kerbau pembajak sawah. Semua lukisan menggambarkan realita sebuah negeri yang sedang sakit.
“Dari mana den, nampaknya kok letih benar?” seorang wanita paruh baya menyodorkan segelas teh hangat.
“Emm…, anu bu..., habis dari jalan.” mencoba tersenyum.
“Wah jangan panggil bu, panggil saja yu Jenjem. Panggilan itu hanya untuk orang-orang kantoran den. Orang-orang yang bersepatu tinggi, yang bunyinya kletak-kletok itu lho. Yang selalu menenteng barang belanjaan dari mall. Terus tertawa riang dengan hanphone ditelinganya.”
“Mbakyu ini bisa saja. Saya juga tidak pantas dipanggil Aden kok”
“Tapi pakaianya rapi gitu, pasti orang kantoran.” lelaki itu tersenyum kecut.
“Dari keliling melamar pekerjaan kok mbakyu, tapi susahnya minta ampun.”
“Cari pekerjaan sekarang memang semakin susah. Banyak sarjana yang jadi pengangguran karena tidak mempunyai keahlian.”
Yu jenjem tersenyum. Lelaki itu berhenti sejenak mengunyah nasinya. Nasi itu jadi terasa sangkut di tenggorokan. Diambilnya teh hangat disamping tangan kiri, meminumnya dengan leher menjulur kedepan. Matanya melotot, tak lama ada air yang merembes di sudutnya. Ucapan pemilik warteg itu terasa menyindir, menohok ulu hatinya. Namun apakah ia mengelak seandainya itu ditujukan kepadanya? Tidak. Ia tidak bisa mengelak, karena memang pada dasarnya itulah kenyataanya.





0 komentar:
Posting Komentar